Bangsa Indonesia pada tahun ini memiliki dua sarana sekolah yakni sekolah nasionalis dan sekolah religius. Sekolah nasionalis terjadi sepanjang bulan Agustus dan sekolah religius terjadi sepanjang bulan september (Romadhan).
Bulan agustus dimana bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaanya shg sepanjang bulan tersebut yang ada dibenak kita adalah kebanggaan sebagai bangsa yang besar, bangsa yang merdeka dan bangsa yang terbebas dari penjajahan. Dari sabang sampai merauke, baik dikota maupun di desa baik di lembah maupun dibukit, baik dipesisir pantai maupun di pedalaman semua warga sedang bergembira. Para pejabat ditingkat pusat dan daerah berusaha menumbuhkembang rasa nasionalisme masyarakat dengan berbagai perayaan dan simbolisasi kemerdekaaan seperti berbagai perlombaan dan berbagai atraksi jaman dahulu.
Inilah yang saya maksud sekolah nasionalisme karena setiap anak bangsa meresakan bahwa kita adalah bangsa besar dan bersatu serta memiliki kecintaan yang dalam terhadap tanah air. Namun bagaimana rasa nasionalisme yang telah lecut bertumbuh dan berkembang di setiap dada anak bangsa ini dapat diactulisasikan dalam keseharian kita.
Sebagai pejabat hendaknya jauh-jauh meninggalkan sikap korupsi dan kolusi yang hanya menyebabkan anak bangsa yang lain miskin dan melarat. Sebagai profesional hendaknya bekerja secara profesioanal sesuai tugasnya masing-masing sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang produktif. Dimana produksi dalam negeri dengan kualitas yang tinggi dapat dibanggakan shg bangsa-bangsa lain berkeinginan untuk menggunakan produk kita. Kita semua hendaknya bangga menggunakan dan memakai produk dalam negeri bukan malah bangga menggunakan produk luar negeri. Para pengusaha hendaknya menjalankan usahanya dengan dengan fair tanpa kolusi dan suap.
Jika demikian halnya penulis yakin kita menjadi bangsa yang merdeka dengan sebenar-benarnya merdeka. Namun apa lacur. Perayaan 17 Agutus hanya simbol belaka. Pejabat masih banyak yang korup dan kolusi serta menidas. Pengusaha masih sangat memetingkan keuntungannya. Masyarakat Indonesia masih suka produk yang bebrai luar negeri/ import. Pejabat masih lebih memetingkan pemodal dari rakyatnya sendiri. Sehingga sudah 60 tahun kita merdeka bangsa Indonesia masih menjadi negara miskin yang mana rakyatnya 50% hidup dalam kemiskinan. Bahkan dalam segala aspek jauh tertinggal dari negara-negara tetangga yang lebih akhir merdeka.
Pada tahun ini 1 September 2008 bertepatan dengan 1 Romadhan 1429 H. Sebagaimana tradisi di Indonesia memasuki bulan Romadhan sudah terdengar begitu meriah orang menyambutnya. Hal ini dimotivasi oleh sebuah ajaran islam bahwa barang siapa yang senang dan gembira dengan datangnya Romadhan maka Tuhan akan memberikan pahala. Coba lihat, hanya senang dan gembira saja sudah diganjar dengapa pahala oleh Tuhan. Namun tentu kesenangan dan kegembiraan disini bukanlah kesenangan dan kegembiraan yang manipulatif. Menyambut romadhan dengan senang dan gembira yang tidak manipulatih adalah saat dibulan romadhan kita menjalankan puasa, dimana puasanya tidak hanya tidak makan dan minum namun menjalankan puasa sepertinya puasanya orang-orang ”khos”.
Puasanya orang-orang khos inilah sebenarnya yang akan menjadikan romadhan sebagai sekolah rohani. Puasa tidak hanya menahan makan dan minum namun menahan dan mengendali segala nafsu seperti egois, mau menang sendiri, dengki, iri, suka mengumpat, suka marah, korupsi, mencuri dan kolusi. Pada bulan romadhan ini seluruh musholla dan masjid penih sesak dengan orang yang sholat, orang yang membaca alquraan. Bahkan kegiatan sholat dan mengaji ini sampai-sampai dilakukan di rumah warga, ada juga yang dihalaman rumah warga, dijalan raya dan juga dilapangan. Siraman rohani juga terjadi di kantor-kantor pemerintah dan swasta juga di pabrik-pabrik.
Betapa indahnya bulan romadhan ini yang menyebabkan bangsa Indonesia mendadak menjadi religius. Saya berani mengatakan bahwa negara harus berterima kasih kepada Islam. Karena jika ini dijalankan pemerinta atau negara berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk kegiatan religius ini. Tentu cukup besar bahkan akan menyerap seluruh APBN.
Namun gemuruh religius ummat islam di awal bulan romadhan segera tergerus dan terkikis oleh sifat konsumtif menjelang lebaran atau saat bulan romadhan belum pergi. Musholla dan masjid yang biasanya ramai dengan orang sholat, tadarrus, dakwah mulai pindah ke Mal dan tempat pertokoan. Masyarakat dengan bernafsu berburu belanjaan mulai dari makanan, minuman pakaian bahkan barang mewah seperti HP dan mobil harus segera diganti sebelum lebaran. Ummat semakin kalap dan bernafsu untuk berbelanja dengan di terornya ummat dengan iklan yang menggiurkan baik di media elektronik maupun di media massa. Harapan diakhir ramadhan bahwa ummat semakin religius ternyata jauh panggang diapi. Masyarakat semakin kering dan beringas dalam memmenuhi hawa nafsunya. Ternyata romadhan juga hanya menjadi simbol.
Seharusnya romadhan sebagai sekolah religius sebagai tempat latihan untuk membangun ketaqwaan kepada Tuhan. Dengan tujuan mengendalikan hawa nafsu shg melahirkan prilaku saleh. Saleh secara individual maupun saleh secara sosial. Sehingga keseluruhan hidup kita dipimpin oleh Ruh Tuhan yang senantiasa selalu mendorong manusia ke arah Ilahi. Romadhan Sebagai sekolah religius seharusnya bukan seberapa hebat dalam beribadah dibulan romadhan namun seberapa konsisten dan komit kita sebagai manusia dalam mempertahankan sikap religius yang penuh ibadah dan pengendalian hawa nafsu disepanjang tahun setelah bulan romadhan. Artinya adakah peningkatan sikap religius dari sebelum romadhan dengan sesudah romadhan.

0 komentar:
Poskan Komentar