Jumat pagi 18 Mei 2012, entah knapa tiba tiba pikiranku ingin sekali keluar rumah bersama keluarga. Entah piknik atau sekedar keliling kota Jakarta atau Bekasi. Atau mungkin terbawa suasana long weekend dimana kebanyakan orang piknik bersama keluarga…

“ yu semua bangun dan siap siap kita piknik” kataku kepada semua penghuni tumah.

“ kita akan pergi kemana pa” kata istriku. “ saya juga nggak tahu, yang penting pergi aja” jawabku.

“pulang hari atau nginap pak?’ kembali istriku bertanya. “ itupun saya juga nggak tahu” jawabku kembali. “ mau bawa baju ganti atau tidak, nggak usah dipikirin. Yang bisa dibawa, yah bawa saja” aku menegaskan.

Tepat pukul 08.00, karena memang bangunnya sudah kesiangan hehehe.. aku dan keluarga meninggalkan rumah.  Ku mengendarai mobil dengan santai, sempat muter muter di perumahan Harapan Indah, kemudian bergerak menuju kota Bekasi.  Maksud hati menuju Mall metropolitan, mall paling rame di kota bekasi, tetapi entah knapa mobil bergerak menuju daerah Pekayon.

Ahaaa… kalau begitu kita ke Taman Bunga Mekarsari saja” aku minta persetujuan yang lain. “apa katanya papa deh, manut” sahut istriku tanda setuju

 Maka ku arahkan mobilku menuju Cileungsi  melawati jalanan aspal berdebu bersama mobil mobil truk besar dengan maksud Taman Bunga Mekarsari. Setelah sampai di Taman Bunga Mekarsari, entah knapa saya enggak ingin masuk. Pikiranku kembali mencari tempat rekreasi lain. kembali aku menawarkan Taman Bunga di daerah Cinjur kepada istriku. Mengapa disana? Karena dari beberapa info dari teman, Taman bunganya indah indah kayak di Eropa, hawanya sejuk dll.

 “Berjalan tanpa tujuan,Kadang banyak memerlukan haluan” (Wicaksana words)

Maka mobilkupun terus menuju kearah jonggol, namun sempat berhenti didepan perumahaan Citra Indah karena ada  sebuah bangunan besar yang menarik bertuliskan “RSUD Cileungsi”.  Saya sempat foto foto bangunan tersebut, dengan maksud nanti aku kirimkan ke teman kerja yang khusus mangcover wilayah tersebut. Agar produk produk kami bisa dipakai di rumah sakit tersebut……. hadahhh lubiran masih mikirin kerjaan.

 “Jika pekerjaan telah mendarah daging, Maka peluangpun selalu bersanding

Untuk dijadikan goal yang terpenting”

(Wicaksana words)

 Kami sempat sholat jumat di daerah Setu Serang khutbahnya menggunakan bahasa Sunda. mungkin karena sebagian besar jamaahnya adalah bahasa sunda. itulah wisdom yang dimiliki kyai kampung dalam menyampaikan dakwahnya kepada jamaahnya. Menggunakan bahasa jamaahnya dengan bahasa yang sangat sederhana.  He he he.. beda dengan sebagian kecil Umat Islam yang kalau khutbah menggunakan bahasa Arab walaupun jamaahnya nggak ngerti. Sehingga Jaka sembung bawa golok, nggak nyambung….. (terus sendiri ya hehehe).

Berjalan dan berbincang sama keluarga sambil mengomentari apapun kita temui diperjalanan, seperti Gunung yang menjulang tinggi, jalanan yang berkelok, hutan dan sawah, tanpa terasa perut mengingatkan saya. “aku dah laper tahu, apa ente kaga liat jam euuuuuuuuk” bisikan dari perut disertai sempritanya.  Berhentilah kami di sebuah rumah makan yang cukup luas khas Sunda. Konsep rumah makan ini adalah self service yakni silahkan ambil sendiri dan bayarnya setelah selesai makan. Pada saat membayarpun hanya ditanya makan apa saja, lalu kusebutin  makanan yang kami makan, kemduian sang kasir menyebut angka 87 ribu. Wahhh murah sekali nih. Inilah wisdom yang kedua yang dapat kami pelajari dari masyarakat desa yakni percaya bahwa semua orang jujur adanya.

Mereka yang sehari hari menerapkan kejujuran pada diri dan keluarganya maka dia percaya bahwa semua orang jujur.

“orang yang sering buruk sangka, karena seringkali kelakuan dirinya buruk”

(Wicaksana words)

 Setelah cukup mengisi perut, saya tidak lantas berangkat tetapi bermain main dulu di kolam ternak ikan koi di samping rumah makan. Ikannya sudah besar besar dan jumlahnya sangat banyak. Anak anak sangat senang dikala memberinya makan dan kemudian melihat ikan berebutan bahkan melompat. Mungkin itulah gambaran kehidupan kita. Tidak jarang manusia berebutan dan bersikutan dalam mencari rejeki.

Setelah bertanya kepada salah satu orang di rumah makan arah menuju Taman Bunga, kami kembali meluncur.  Setelah jembatan kami langsung belok kiri menuju Taman Bunga Nusantara sesuai petunjuk jalan yang ada. Kami menelusuri jalanan yang sepi dan agak gelap, dimana kanan dan kiri hamparan bukit dan hutan kelapa sawit. Sedikit ada keraguan dan kekhawatiran tetapi didepan keluarga, seorang kepala rumah tangga harus yakin dan percaya diri.

 Saat hati komandan terselip rasa takut,

Jangan kelihatan anak buah yang jadi pengikut,

Saat hati komadan terserang rasa khawatir

Jangan bikin anah buah jadi getir

Teruslah bergerak dan terjanglah tantangan

Maka semua kemenangan akan ada di tangan.

(Wicaksana words)

 Akhirnya Jam setengah 5 Sore, mobil kami memasuki area Taman Bunga Nusantara.  Hanya sekedar cari tahu sebentar lantas beranjak cari penginapan karena Taman bungan tutup jam 5 an.

Karena hanya membawa bekal seadanya, maka kami membeli beberapa kebutuhan mandi, pakaian dan makanan kecil. Kemduian hasil berbincang bincang dengan pemilik toko, maka ditunjukilah sebuah komplek Villa yang harganya murah. Karena takut kami kesasar maka pemilik toko mengantarkan kami dengan sepeda motornya.  Inilah wisdom ketiga dari masyarakat desa yang saya dapati.  Membantu tanpa pamrih, hanya karena ingin meringankan beban orang lain. Maka kamipun menginap disebuah villa dengan harga 500 ribu yang terdiri dari dua kamar didur, musholla, ruang keluraga cukup besar dan dapur. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan saya harus nginap di sebuiah Hotel. Terima kasih Pak Asep.

Dipagi harinya sekitar jam 08.00 kami berangkat menuju taman Bunga Nusantara. Kalau pagi masih sepi dan sinar matahari belum terlalu panas. Tentu sangat baik untuk ambil gambar sekedar melampiaskan jiwa narsis yang terpendam.

Berbagai macam taman bunga yang sangat indah, tidak aku lewatkan untuk mengabadikan dengan berfoto baik sendiri maupun  bersama keluarga. Ada Taman Imaginasi, sebuah tempat permainan bagi anak anak. Ada Taman air, taman mawar, taman Perancis, taman rahasia (labirynth), taman bali, taman mediterania, taman palem, dan taman gaya jepang, rumah kaca, danau angsa, rafflesia mini theater, gazebo, lokasi piknik, amphitheater (panggung terapung) kereta datto, mobil wira-wiri, menara pandang dna lain lain.

“kesenangan jangan sampai membuat kita lupa diri, tetaplah instropeksi diri

Sadarilah apa yang sedang terjadi, agar kita selalu happy” (Wicaksana words)

Tepat pukul 13.00, saya meninggalkan Taman Bunga. Kemudian berhenti di nursery hendak beli beberapa bunga. Cukup terkejut ketika meraba saku belakang,  dompet sudah tida ada. Anak dan istri berusaha mencari di dalam mobil, juga tidak ketemu. Lantas saya kembali menuju taman bunga sekdar melaporkan kehilangan. Minta diumumkan dan siapa tahu ada yang menemukan kemudian menyerahkan ke kantor Taman Bunga. Karena banyak surat surat penting, maka saya juga melaporkan ke polsek setempat. Makan siangpun kembali terlambat, dengan uang seadanya makanan padangpun jadi lahap Jam setengah 5 sore saya kembali menemui pihak Taman Bunga, dan ternyata Nihil. Maka saatnya aku ikhlaskan,

Berupaya mencari sudah tuntas, Saat melepaskan denga iklas,
Agar hati dan pikiran jadi pas, agar tidurpun tetap pulas

(Wicaksana words)

 Perjalanan ke Jakarta terasa ringan dengan tidak adanya uang. Karena tiada lagi kepikiran mau beli ini dan itu.

“ selama hidup kita diajarkan untukmencari, mengambil, merengkuh dan mendapatkan sebanyak banyaknya, tanpa diimbangin untuk belajar melepaskan. Pantas saja perjalan hidup ini bebannya semakian berat. Padahal dengan melepaskan, hidup mulai ringan kembali’

(Wicaksana words)

 Hehehe…. menghibur diri…….. tapi beneran lo!

 “Jika berjalan tanpa rencana seringkali kita banyak menemui bencana”

(Wicaksana words)

 

Jumat pagi 18 Mei 2012, entah knapa tiba tiba pikiranku ingin sekali keluar rumah bersama keluarga. Entah piknik atau sekedar keliling kota Jakarta atau Bekasi. Atau mungkin terbawa suasana long weekend dimana kebanyakan orang piknik bersama keluarga…

“ yu semua bangun dan siap siap kita piknik” kataku kepada semua penghuni tumah.

“ kita akan pergi kemana pa” kata istriku. “ saya juga nggak tahu, yang penting pergi aja” jawabku.

“pulang hari atau nginap pak?’ kembali istriku bertanya. “ itupun saya juga nggak tahu” jawabku kembali. “ mau bawa baju ganti atau tidak, nggak usah dipikirin. Yang bisa dibawa, yah bawa saja” aku menegaskan.

Tepat pukul 08.00, karena memang bangunnya sudah kesiangan hehehe.. aku dan keluarga meninggalkan rumah.  Ku mengendarai mobil dengan santai, sempat muter muter di perumahan Harapan Indah, kemudian bergerak menuju kota Bekasi.  Maksud hati menuju Mall metropolitan, mall paling rame di kota bekasi, tetapi entah knapa mobil bergerak menuju daerah Pekayon.

“Ahaaa… kalau begitu kita ke Taman Bunga Mekarsari saja” aku minta persetujuan yang lain. “apa katanya papa deh, manut” sahut istriku tanda setuju

 Maka ku arahkan mobilku menuju Cileungsi  melawati jalanan aspal berdebu bersama mobil mobil truk besar dengan maksud Taman Bunga Mekarsari. Setelah sampai di Taman Bunga Mekarsari, entah knapa saya enggak ingin masuk. Pikiranku kembali mencari tempat rekreasi lain. kembali aku menawarkan Taman Bunga di daerah Cinjur kepada istriku. Mengapa disana? Karena dari beberapa info dari teman, Taman bunganya indah indah kayak di Eropa, hawanya sejuk dll.

“Berjalan tanpa tujuan,Kadang banyak memerlukan haluan” (Wicaksana words)

 

Maka mobilkupun terus menuju kearah jonggol, namun sempat berhenti didepan perumahaan Citra Indah karena ada  sebuah bangunan besar yang menarik bertuliskan “RSUD Cileungsi”.  Saya sempat foto foto bangunan tersebut, dengan maksud nanti aku kirimkan ke teman kerja yang khusus mangcover wilayah tersebut. Agar produk produk kami bisa dipakai di rumah sakit tersebut……. hadahhh lubiran masih mikirin kerjaan.

“Jika pekerjaan telah mendarah daging, Maka peluangpun selalu bersanding

Untuk dijadikan goal yang terpenting”

(Wicaksana words)

Kami sempat sholat jumat di daerah Setu Serang khutbahnya menggunakan bahasa Sunda. mungkin karena sebagian besar jamaahnya adalah bahasa sunda. itulah wisdom yang dimiliki kyai kampung dalam menyampaikan dakwahnya kepada jamaahnya. Menggunakan bahasa jamaahnya dengan bahasa yang sangat sederhana.  He he he.. beda dengan sebagian kecil Umat Islam yang kalau khutbah menggunakan bahasa Arab walaupun jamaahnya nggak ngerti. Sehingga Jaka sembung bawa golok, nggak nyambung….. (terus sendiri ya hehehe).

Berjalan dan berbincang sama keluarga sambil mengomentari apapun kita temui diperjalanan, seperti Gunung yang menjulang tinggi, jalanan yang berkelok, hutan dan sawah, tanpa terasa perut mengingatkan saya. “aku dah laper tahu, apa ente kaga liat jam euuuuuuuuk” bisikan dari perut disertai sempritanya.  Berhentilah kami di sebuah rumah makan yang cukup luas khas Sunda. Konsep rumah makan ini adalah self service yakni silahkan ambil sendiri dan bayarnya setelah selesai makan. Pada saat membayarpun hanya ditanya makan apa saja, lalu kusebutin  makanan yang kami makan, kemduian sang kasir menyebut angka 87 ribu. Wahhh murah sekali nih. Inilah wisdom yang kedua yang dapat kami pelajari dari masyarakat desa yakni percaya bahwa semua orang jujur adanya.

Mereka yang sehari hari menerapkan kejujuran pada diri dan keluarganya maka dia percaya bahwa semua orang jujur.

“orang yang sering buruk sangka, karena seringkali kelakuan dirinya buruk”

(Wicaksana words)

Setelah cukup mengisi perut, saya tidak lantas berangkat tetapi bermain main dulu di kolam ternak ikan koi di samping rumah makan. Ikannya sudah besar besar dan jumlahnya sangat banyak. Anak anak sangat senang dikala memberinya makan dan kemudian melihat ikan berebutan bahkan melompat. Mungkin itulah gambaran kehidupan kita. Tidak jarang manusia berebutan dan bersikutan dalam mencari rejeki.

Setelah bertanya kepada salah satu orang di rumah makan arah menuju Taman Bunga, kami kembali meluncur.  Setelah jembatan kami langsung belok kiri menuju Taman Bunga Nusantara sesuai petunjuk jalan yang ada. Kami menelusuri jalanan yang sepi dan agak gelap, dimana kanan dan kiri hamparan bukit dan hutan kelapa sawit. Sedikit ada keraguan dan kekhawatiran tetapi didepan keluarga, seorang kepala rumah tangga harus yakin dan percaya diri.

Saat hati komandan terselip rasa takut,

Jangan kelihatan anak buah yang jadi pengikut,

Saat hati komadan terserang rasa khawatir

Jangan bikin anah buah jadi getir

Teruslah bergerak dan terjanglah tantangan

Maka semua kemenangan akan ada di tangan.

(Wicaksana words)

Akhirnya Jam setengah 5 Sore, mobil kami memasuki area Taman Bunga Nusantara.  Hanya sekedar cari tahu sebentar lantas beranjak cari penginapan karena Taman bungan tutup jam 5 an.

Karena hanya membawa bekal seadanya, maka kami membeli beberapa kebutuhan mandi, pakaian dan makanan kecil. Kemduian hasil berbincang bincang dengan pemilik toko, maka ditunjukilah sebuah komplek Villa yang harganya murah. Karena takut kami kesasar maka pemilik toko mengantarkan kami dengan sepeda motornya.  Inilah wisdom ketiga dari masyarakat desa yang saya dapati.  Membantu tanpa pamrih, hanya karena ingin meringankan beban orang lain. Maka kamipun menginap disebuah villa dengan harga 500 ribu yang terdiri dari dua kamar didur, musholla, ruang keluraga cukup besar dan dapur. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan saya harus nginap di sebuiah Hotel. Terima kasih Pak Asep.

Dipagi harinya sekitar jam 08.00 kami berangkat menuju taman Bunga Nusantara. Kalau pagi masih sepi dan sinar matahari belum terlalu panas. Tentu sangat baik untuk ambil gambar sekedar melampiaskan jiwa narsis yang terpendam.

Berbagai macam taman bunga yang sangat indah, tidak aku lewatkan untuk mengabadikan dengan berfoto baik sendiri maupun  bersama keluarga. Ada Taman Imaginasi, sebuah tempat permainan bagi anak anak. Ada Taman air, taman mawar, taman Perancis, taman rahasia (labirynth), taman bali, taman mediterania, taman palem, dan taman gaya jepang, rumah kaca, danau angsa, rafflesia mini theater, gazebo, lokasi piknik, amphitheater (panggung terapung) kereta datto, mobil wira-wiri, menara pandang dan lain lain.

“kesenangan jangan sampai membuat kita lupa diri, tetaplah instropeksi diri

Sadarilah apa yang sedang terjadi, agar kita selalu happy”(Wicaksana words)

Tepat pukul 13.00, saya meninggalkan Taman Bunga. Kemudian berhenti di nursery hendak beli beberapa bunga. Cukup terkejut ketika meraba saku belakang,  dompet sudah tida ada. Anak dan istri berusaha mencari di dalam mobil, juga tidak ketemu. Lantas saya kembali menuju taman bunga sekdar melaporkan kehilangan. Minta diumumkan dan siapa tahu ada yang menemukan kemudian menyerahkan ke kantor Taman Bunga. Karena banyak surat surat penting, maka saya juga melaporkan ke polsek setempat. Makan siangpun kembali terlambat, dengan uang seadanya makanan padangpun jadi lahap Jam setengah 5 sore saya kembali menemui pihak Taman Bunga, dan ternyata Nihil. Maka saatnya aku ikhlaskan,

Berupaya mencari sudah tuntas, Saat melepaskan denga iklas,
Agar hati dan pikiran jadi pas, agar tidurpun tetap pulas

(Wicaksana words)

Perjalanan ke Jakarta terasa ringan dengan tidak adanya uang. Karena tiada lagi kepikiran mau beli ini dan itu.

“ selama hidup kita diajarkan untukmencari, mengambil, merengkuh dan mendapatkan sebanyak banyaknya, tanpa diimbangin untuk belajar melepaskan. Pantas saja perjalan hidup ini bebannya semakian berat. Padahal dengan melepaskan, hidup mulai ringan kembali’

(Wicaksana words)

Hehehe…. menghibur diri…….. tapi beneran lo!

“Jika berjalan tanpa rencana seringkali kita banyak menemui bencana”

(Wicaksana words)

One Reply to “Berjalan Tanpa Rencana, Sering Bertemu Bencana”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *