Kalijodo, Prostitusi dan Branding Koh Ahok.

AHOKBerawal dari celotehan preman Kalijodo bahwa Ahok tidak akan berani menertibkan Kalijodo, Karena Preman Kalijodo sangar sangar dan tidak takut mati.Ahok diminta mikir mikir untuk menertibkan prostitusi Kalijodo. Ahok yang dikenal ceplas ceplos dan kalau bicara tanpa filter, langsung menjawab tatangan Preman kalijodo. Karena sudah terbiasa dengan perang urat sarat maka Ahok pernyataan yang tak kalah kerasnya. Bahwa akan mengirim Tank ke Kalijodo, menerjunkan 1000 Brimob dan kalijodo akan diratakan dengan tanah.
Kalijodo tiba tiba menjadi popular dan banyak di bicarakan orang. Hingga akhirnya Kalijodo yang terkenal dengan Bisnis prostitusi menjadi ajang pembuktian akan komitmen Ahok. Siapa yang menyangka Ahok yang pernah mewacanakan akan melegal prostitusi di satu aprtemen sehingga dikecam banyak pihak tiba tiba dengan segera memerangus prositusi Kalijodo.
Ahok memang cerdas dan cerdik. Setiap sepak terjangnya menjadi ajang mem-branding dirinya. Ya ahok telah menjadikan pelemik prostitusi Kalijodo menjadi ajang kampanye untukk dirinya. Hal ini menurut saya tanpa sengaja dilakukan oleh Ahok. Mengingat Ahok tidak terlalu banyak berharap kepada Partai Partai untuk menjagokan dirinya dalam Pilkada 2017 setalah perang panjang dengan DPRD DKI kecuali mungkin Parta Nasdem.
Hidayat Nurwahit mencium aroma kampanye terselubung dari Ahok. Tetapi mau bagaimana lagi,seorang gubernur yang telah punya panggung bisa saja setiap kebijakan dan sepak terjangnya dalam mempimpin akan menjadi ajang kampanye bagi dirinya. Bacot yang ceplas ceplos, tegas, anak buah tak becus sikat telah menjadi icon seorang Ahok. Yang ternyata lama kelamaan tak sedikit orang terkagum kagum terhadap Ahok karena memang memimpin Jakarta tidak bisa dengan bersikap sok santun dan melempar senyum untuk menarik simpatik.
Koh Ahok, memang cerdik membranding dirinya dengan ciamik. Ahok telah melakukan yang didunia marketing disebut “out of the box” . Ia tak biasa melakukan branding dirinya dnegan menempatkan foto dirinya di papan reklame setiap sudut kota dengan menggunakan angaran pemeirntah. Komunikasi marketingnya unik dan elegan sehingga menjadi media darling. Ia tak pernah melakukan pencitraan palsu, ia tak perduli dengan image dirinya yang sepertinya tidak punya sopan santun tetapi ia melakukan action yang berguna untuk masyarakat.
Polemik Kalijodo memang menjadi panggung yang ciamik bagi koh Ahok tetapi menjadi pedang bermata dua bagi lawan lawan politiknya. Kalijodo telah menjadi dilemma besar bagi lawan poltik Ahok termasuk FPI yang selama ini anti Koh Ahok. Melawan kebijakan Ahok dalam menertibkan Kalijodo diangap mendukung warga Kalijodo dan prostitusinya serta para premannya yang tentu akan membangun citra negative tentang dirinya. Mendukung koh ahok sama saja dengan mengkampanyekan Ahok dalam merebut simpati masyarakat di pilkada 2017.
Mau tak mau FPI pun terpaksa mendukung Ahok. Kecuali Om Dani Ahmad yang terpancing permainan Ahok sok menjadi pahlawan datang ke Kalijodo walau sekedar minum kopi. Tapi sadisnya daeng Azis Preman Kalijodo justru mentertawakannya. Belum lagi H Lulung yang sok mau membantu Ahok untuk berbicara dari hati ke hati dengan preman Kalijodo, sehingga mengokohkan dirinya bahwa H Lulung memang mantan Preman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *