akurapopoAku rapopo , mungkin saat ini kata tersebut adalah kata yang paling popular di negeri ini. Mungkin juga karena di ucapkan oleh seorang politisi yang di Serang kanan kiri oleh lawan lawan politiknya,  juga mungkin karena ada seorang penyanyi yang menangkapnya sebagai peluang sehingga  dijadikan sebagai judul lagu.

Tetapi apa sih sebenarnya arti kata Aku rapopo itu baik secara harfiah  maupun secara filosofis.

Secara harfiah Aku rapopo adalah aku tidak apa apa. Aku tidak apa apa walaupun aku di apa apakan oleh orang lain.

Namun kata tersebut menjadi beragam makna dan arti ketika  dimaknai secara filosofis.

Aku rapopo bisa diartikan sebuh sikap pasrah dan ikhlas terhadap apa yang terjadi atau terhadap prilaku orang lain yang merugikan diri kita. sebaliknya, aku rapopo bisa jadi sebuah sikap yang menggambarkan batin yang putus asa atau batin yang tercabik cabik dalam menanggapai situasi atau prilaku seseorang sehingga aku rapopo bisa sebaliknya yakni opo opo.

 

Ya… memang setiap kata bisa memiliki beragam makna, untuk itu perlu dilihat track record atau keseharian sikap dari yang mengatakannya.

Kalau yang mengatakan itu orang yang selama ini hidup berkemewahan, memiliki kuasa, sikapnya sangat dominan maka mungkin saja aku rapopo adalah bermakna kebalikannya. Yakni sikap bathin yang tercabik cabik dan putus asa. Ungkapan Aku rapopo sebenarnya terjadi apa apa dalam dirinya. Seperti ungkapan kata sabar yang sebetulnya menunjukkan ketidaksabarannya.

Tetapi jika aku rapopo diungkapkan oleh seseorang yang tidak dominan, keseharian hidupnya sangat sederhana, tidak pernah menyerang dan mempersalahkan orang lain, tidak pernah membalas ketika diserang atau disudutkan oleh orang lain, maka aku rapopo bisa  merupakan jalan keihklasan. Aku rapopo yang dikatakan adalah jalan sunyi. Dia memasrahkan semua yang terjadi kepada Satu Dzat Yang Maha Segalanya dan Maha Kuasa. Itulah jalan tauhid,  karena tiada ruang di batinnya untuk  menyerang atau mempersalahkan orang lain apa lagi kondisi lingkungan. Itu adalah jalan sufi yang dilalui oleh setiap orang yang telah selesai dengan urusan dunianya. Sebuah sikap bathin dari orang orang yang tidak terbelengu oleh masa lalu dan tidak risau dengan masa depan.

Seperti yang diungkapkan oleh Raden Sosro Kartono kakak dari raden Ajeng kartini :

“Trimah mawi pasrah. Suwung pamrih, tebih ajrih. Langgeng tan ana susah, tan ana seneng. Antheng mantheng sugeng jeneng.”

Artinya, “Menerima dengan pasrah. Tiada pamrih, jauh dari takut. Abadi tiada duka, tiada suka. Tenang memusat, bahagia bertakhta.”

“Ikhlas marang apa sing wes kelakon. Trimah apa kang dilakoni. Pasrah marang apa bakal ana.”

Artinya, “Ikhlas terhadap apa yang telah terjadi. Menerima apa yang dijalani. Pasrah terhadap apa yang akan ada.”

Yo Wis Aku Rapopo……!!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *