Bel Yang Suci

gedeSeorang anak muda bertanya secara menyentuh hati seperti ini: “sebagian orang-orang suci mengalami penderitaan yang hebat sekali. Mahatma Gandhi ditembak, Nelson Mandela dipenjara lebih dari seperempat abad, Bunda Teresa hidup di tengah penderitaan kota Kalkuta, apakah untuk menjadi suci harus melewati penderitaan mendalam?”.

Penulis buku “Sejarah Tuhan” Karen Armstrong menulis jelas sekali. Di zaman keemasan dulu, orang-orang suci bercakap-cakap dengan Tuhan seperti manusia bercakap-cakap dengan manusia. Nabi Abraham di tradisi Yahudi, Arjuna di Hindu adalah sebagian contoh manusia yang bercakap-cakap dengan Tuhan.

Tapi kita tidak lagi hidup di zaman keemasan, kita hidup di zaman kapak. Di zaman ini, semua orang suci dimurnikan dan disempurnakan jiwanya melalui penderitaan mendalam. Itu sebabnya Yesus disalib, Nabi Muhammad dikejar-kejar oleh suku Kuraisi, YM Dalai Lama kehilangan negerinya tatkala beliau berumur lima belas tahun.

Pemandangan di kelas-kelas meditasi juga serupa. Nyaris tidak ada orang kaya dan bahagia yang tertarik ikut sesi meditasi. Lebih dari delapan puluh persen peserta meditasi adalah orang-orang yang sedang digoda oleh penderitaan mendalam.

Di kelas-kelas meditasi sering dibagikan pesan seperti ini: “Anda tidak sedang dihukum melalui penderitaan yang sedang dialami, penderitaan adalah bel suci yang memanggil jiwa-jiwa agar segera pulang ke rumah sejati”. Dengan kata lain, berhenti menakuti penderitaan secara berlebihan. Belajar menggunakan penderitaan sebagai tangan-tangan suci yang membimbing.

Orang biasa umumnya ke mana-mana mereka mencari kehidupan yang aman dan nyaman. Sesuatu yang sangat menusiawi tentu saja. Namun setiap sahabat yang perjalanan meditasinya mendalam tahu, tidak ada kehhidupan yang sepenuhnya aman dan nyaman. Bahkan para Nabi, Avatara, Buddha pun mengalami penderitaan.

Terinspirasi dari ini, jika mau menggunakan penderitaan sebagai bel suci, belajar bersahabat dengan segala bentuk ketidaknyamanan. Dari cuaca yang tidak nyaman, makanan yang tidak enak, tetangga yang mengganggu, anak-anak yang nakal, pasangan hidup yang cerewet, sampai dengan atasan yang pemarah.

Awalnya, terasa sekali ada jurang yang lebar antara duka dengan suka, antara salah dengan benar, antara rendah dengan tinggi, antara gagal dengan sukses. Tapi begitu seorang pencari belajar bersahabat dalam dengan segala bentuk ketidaknyamanan, jurang pemisah ini semakin lama semakin sempit.

Itu sebabnya, di sesi-sesi meditasi para sahabat selalu diminta membadankan pesan: “terima, mengalir, senyum”. Terutama untuk menerima segala bentuk ketidaknyamanan. Jika seseorang bisa menerima segala bentuk ketidaknyaman, maka menerima kenyamanan itu sangat mudah.

Kapan saja seorang pencari menemukan, bahwa jarak antara duka dan suka itu tidak ada alias sama, di sana seseorang akan tersenyum penuh pengertian dengan pesan Tantra seperti ini: “sebagaimana salju tidak perlu mencari air, bunga tidak perlu mencari madu, pikiran tidak perlu mencari pencerahan. Terutama karena esensi alami pikiran adalah pencerahan”.

Author: Gede Prama.

sumber: gedepramadotblogdetikdotcom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *