loveby Gede Prama

Suatu hari seorang pekerja seks komersial mengunjungi Socrates yang sedang berdialog dengan segelintir muridnya. Betapa terkejutnya wanita pekerja seks ini tatkala melihat pengikut Socrates hanya segelintir orang, sementara pengunjung kawasan pekerja seks komersial demikian berlimpah.

Lumpur Masyarakat

Osho punya penafsiran sendiri soal cerita di atas. Dengan bahasa yang lugas dan pedas ia menyimpulkan, Socrates itu seperti bunga lotus, sementara manusia kebanyakan seperti lalat. Lalat menyukai bau busuk. Dan lalat pasti lari dari bau wangi bunga lotus. Segelintir lalat tidak saja lari dari bunga lotus, tapi juga melukai bunga lotus. Itu sebabnya Socrates dibunuh, Yesus disalib, Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr. ditembak, Nelson Mandela dipenjara.

Dalam bahasa meditasi, tanpa lumpur maka tidak ada bunga lotus . Dengan tetap menghormati bahasa Osho yang lugas dan pedas, sejujurnya masyarakat itu serupa lumpur. Sekarang tergantung cara pandangnya. Bagi ia yang suka hidup bersih dan steril – setidak-tidaknya merasa diri bersih – maka ia akan lari jauh dari lumpur. Tapi ada sudut pandang ke dua, lumpur adalah tempat bertumbuhnya bunga lotus yang indah.

Meminjam pendapat orang Zen, dalam air yang terlalu steril dan terlalu bersih tidak pernah ada ikan. Dengan cara yang sama, masyarakat memang tempat berkumpulnya banyak hal yang busuk – dari korupsi hingga sakit hati – tapi di sana tersedia lahan luas untuk bertumbuh. Ia yang dalam penggaliannya, akan memilih tinggal di masyarakat. Tidak untuk ikut busuk, tapi untuk menyebar bau wangi di sana dengan menjadi bunga lotus.

Bunga dan Sampah

Pikiran biasa yang menderita memang membuat perbedaan mencolok antara lumpur dan bunga. Bunganya dipegang, lumpurnya ditendang. Dan dalam meditasi, dualitas mana pun semuanya disatukan. Melalui praktik mendalam berupa menerima, mengalir, tersenyum, semuanya hanya disaksikan dengan penuh senyuman dan pengertian.

Di tingkat pandangan terang terlihat, bunga di hari ini akan jadi sampah di hari kemudian. Sampah di hari ini bisa jadi bunga kemudian. Demikian juga dengan kesedihan-kebahagiaan, dukacita-sukacita, cacian-makian. Semuanya berputar dengan hukum dan alirannya masing-masing. Kedamaian lebih dekat dengan pengertian, penerimaan, senyuman.

 Ini yang menjelaskan kenapa penekun meditasi mendalam hidupnya damai, senyumannya damai, matanya damai, batinnya damai. Cuman satu alasannya, di setiap kehidupan hidup mengalir siang, malam, siang lagi. Tidak ada yang bisa membuang malam. Mengalir, itu kunci pembuka pintu kedamaian.

Nyanyian Cinta 

Bagi sejumlah anak muda, mengalir itu diidentikkan dengan kemalasan dan kepasrahan. Bahkan ada yang menyebutnya lemah dan tolol. Tapi bagi orang bijaksana yang dalam penggaliannya, mengalir itu jauh dari lemah dan tolol. Seperti pepohonan yang diam dan hening. Dalam diamnya pohon mengolah racun karbon dioksida menjadi oksigen yang amat dibutuhkan. Serupa samudra, dalam diamnya ia mengolah apa saja yang dibuang ke sana menjadi bahan-bahan kehidupan.

Suatu hari para binatang ingin menyaingi manusia dengan mendirikan sekolah. Pelajaran berenang gurunya ikan, pelajaran berlari gurunya serigala, pelajaran terbang gurunya burung. Setelah sekian tahun sekolahnya tutup, karena yang bisa terbang hanya burung, yang berenangnya sempurna hanya ikan, yang larinya bagus cuman serigala.

Kita semua memang berbeda. Tapi dalam semua perbedaan itu kehidupan menyanyikan lagu-lagu cinta. Lalat yang suka bau busuk, kupu- kupu yang suka bunga wangi, burung yang suka bernyanyi, anak-anak yang suka bermain, semuanya menyanyikan lagu-lagu cinta yang sama. Setiap orang bijaksana yang lama mendengar lagu cinta terakhir, kemudian mengerti ternyata menjalani kehidupan sama dengan mencintai (to live is to love). Semakin dalam cintanya, semakin kuat sayap-sayap jiwa. Semakin kuat sayap jiwa, semakin tinggi sang jiwa terbang. Di puncak perjalanan cinta ini, kemudian seseorang mengerti ternyata kehidupan yang dijalani dengan cinta adalah serangkaian canda dan tawa. Bukan sembarang tawa. Terlalu lama manusia hidup dalam kegelapan. Begitu ruang gelap di dalam diterangi cahaya pencerahan, kemudian bisa mengerti, ternyata kemarahan, kebencian, ketakutan, dosa hanya tali yang dikira ular. Inilah tawanya pencerahan. Seorang kawan yang sudah sampai di sini berpesan, apa pun pertanyaannya cinta jawabannya. Apa pun lukanya canda obatnya.

 

Sumber: Gedeprama-dot-blog-detik-dot-com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *