bulanSuatu hari Nasrudin mengeluh kepada Tuhan, terutama soal kenapa ia diberkahi istri yang cantik. Dengan lembut Tuhan menjawab: “karena cantiklah kamu pilih dia Din”. Sudah cantik lembut pula, lagi-lagi Tuhan menjawab dengan sejuk: “itulah sebabnya kamu pilih dia”. Kali ini dengan permintaan maaf mendalam, Nasrudin bertanya pelan karena takut didengar orang lain, kenapa istrinya tolol sekali. Lagi-lagi Tuhan menjawab lembut: “karena tolollah dia pilih kamu Din”.

Bersahabat Dengan Diri

Inilah ciri sahabat yang jarang sekali mendengar nyanyian kedamaian, ada saja unsur diri ini yang mau dibuang. Mengeluh, mengkiritk, menyalahkan, itulah sebagian ciri manusia jenis ini. Meminjam hasil penelitian mendalam tentang manusia-manusia yang menimbulkan masalah serius seperti kaum radikal, tatkala seseorang menyerang orang lain, bagian kehidupan orang lain yang diserang sama dengan bagian dirinya yang paling dibenci. Sebutlah kemarahan sebagai contoh, tatkala seseorang menyerang orang pemarah sesungguhnya ia sedang sangat membenci kemarahan di dalam dirinya.

Sejumlah studi mendalam tentang kaum radikal menunjukkan, mereka berasumsi bahwa dirinya akan diserang. Apa yang ada di balik asumsi ini adalah perasaan tidak aman, kegagalan untuk bersahabat dengan diri. Karena curiga akan diserang maka setiap gerak orang lain dilihat secara mencurigakan. Hasilnya mudah ditebak, kehidupan jadi rumput kering yang mudah terbakar. Itu sebabnya, sejumlah sahabat penyembuh sepakat, pada setiap penyakit dan rasa sakit selalu ada unsur penolakan terhadap diri (self denial). Semakin keras seseorang menolak dirinya, semakin keras rasa sakitnya.

Terinspirasi dari sini, bagi setiap sahabat yang mau sembuh sekaligus damai, penting sekali balajar bersahabat dengan diri. Terutama bersahabat dengan kekurangan, kesialan, ketidaksempurnaan. Persahabatan ini tidak saja menghentikan pertempuran dengan diri sendiri, ia juga menghentikan rasa sakit yang kita timbulkan pada orang lain. Dalam bahasa seorang kawan : “tatkala saya berhasil mencintai diri saya secara penuh dan utuh, hidup mekar seperti bunga yang indah”.

Merawat Taman Kehidupan

Serupa taman, kehidupan di luar maupun di dalam senantiasa kaya warna. Di luar ada bangsa Amerika, Inggris, Prancis, dll. Di dalam kadang senang kadang sedih. Bibit kedamaian adalah menerima bahwa kehidupan memang kaya warna. Meditasi atau tidak, kehidupan tetap kaya warna. Banyak sekali murid meditasi yang menolak pikirannya yang melompat ke sana ke mari, mau menggantinya dengan pikiran dengan warna tunggal yakni tenang dan damai. Dan semakin ditolak, pikirannya semakin bergelombang.

Itu sebabnya, kepada banyak murid meditasi dipesankan, terima kehidupan yang kaya warna. Dekap ia seperti seorang ibu mendekap anak-anak dengan berbagai macam perbedaan. Ia mirip dengan penggemar taman yang menyirami semua pohon dengan berbagai warna tanpa pilih kasih. Dan bibit kedamaian ini kemudian disirami dengan cinta kasih, dirawat dengan pupuk belas kasih. Hanya ia yang sudah mencintai dirinya dan kehidupan kemudian bisa mencintai orang lain.

Kepada sejumlah murid meditasi yang sakit, bahkan penyakit pun disarankan untuk diterima sebagai bagian dari diri ini. Indahnya penyakit, ia membuat seseorang hidup hati-hati, waspada, tidak sembarangan. Penyakit hepatitis B sebagai contoh, ia memberi tanda-tanda yang layak dibaca. Badan lelah, kencing yang kuning dan keruh, mata yang mulai berwarna kuning adalah tanda-tanda yang layak dibaca. Bila tanda-tanda yang diberikan penyakit ini dibaca, diwaspadai, digunakan masukan untuk hidup disiplin, maka seseorang bisa sembuh, utuh, damai karena penyakit.

Pensil Kedamaian

Tidak banyak manusia yang sembuh dari permusuhan dengan diri sendiri, kemudian hidup utuh dengan cara melayani orang lain. Bunda Teresa adalah salah satu jiwa langka. Tatkala ditanya tentang intisari hidupnya, beliau hanya menjawab ringkas tapi padat: “saya hanya pensil di tangan Tuhan”. Mahatma Gandhi adalah jiwa langka yang lain. Di depan muridnya kerap beliau berpesan: “cara tercepat untuk menemukan diri sendiri adalah melenyapkan diri dalam pelayan pada orang lain”.

Sebagaimana dialami banyak pencari ke dalam diri, setelah sembuh dari permusuhan dengan diri, biasanya ada energi berikutnya yang muncul dari dalam yakni keikhlasan dan ketulusan. Ia sesederhana kelapa yang ikhlas di pantai yang panas, pohon pinus yang tulus di pegunungan yang sejuk. Energi ketulusan dan keikhlasan ini kemudian melahirkan bayi pelayanan. Bukan sembarang pelayanan, tapi pelayanan sebagai bagian dari pengalaman kebersatuan.

Siapa saja yang hidupnya sudah menyatu sempurna seperti ini, setiap gerak hidupnya seperti pensil yang menulis puisi kedamaian. Kerja, doa, pelayanan semuanya menulis kedamaian. Ia sesederhana burung yang bernyanyi. Ada yang mendengarkan atau tidak, disenangi atau tidak, makan atau pun tidak, burung tetap bernyanyi. Inilah hidup sebagai nyanyian kedamaian

sumber. Gedeprama-dot-blogdetik-dot-com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *