Bisnis Bergerak Dengan Logikanya Sendiri

Konon ada sentimen yang sangat keras antara bangsa Yahudi dan bangsa Arab.  Karena sentimen inilah ada seorang pengusaha Yahudi bernama Moshe membuka usaha restoran di kota london dengan mencantumkan di depan retorannya sebuah pengumuman yang berbunyi : ”Maaf, restoran ini tidak melayani bangsa arab”.

Selang beberapa hari datanglah seorang arab yang masuk ke restoran tersebut dan memesan sandwich. Bingunglah pelayan restoran itu, dan segera tergesa-gesa menemui Moshe sang majikannya.  Pelayan tersebut menanyakan bagaimana cara mengusir orang arab tadi. Moshe juga bingung sehingga mengambil keputusan”  begini… layani saja tapi tagih dia  dua kali lipat,  agar dia jera dan tak kembali lagi

Ternyata perkiraan Moshe salah, karena beberapa hari kemudian orang arab ini datang lagi ke restorannya bersama empat orang temannya. Moshe menaikkan harganya tiga kali lipat. Dan orang arap ini tidak marah. Setelah melihat bon-nya, menyampaikan terima kasih dan pergi. ”Gila benar si Arab ini” kata Moshe. Namanya pengusaha maka terlupakanlah fanatisme, sentimen, nasionalismenya. Bisnis is binis. Melayani orang arab yang sebelumnya dihindari ternyata lebih mengutungkan. Akhirnya Moshe berharap pelanggannya yang orang arab tersebut datang kembali mengunjungi restorannya.

Benar, akhirnya si arab datang lagi bersama sepuluh temannya. Pelayannya bertanya kepada Moshe ” sekarang berapa kali lipat bos”. Giliran Moshe hati-hati ”tunggu dulu..kita jangan sampai kehilangan pelanggan ini. Tiga kali lipat saja dan kasih diskon 20%”. Pelayannya bingung dan bertanya ” Bagaimana dengan solidaritas kita sebagai bangsa Yahudi. Arab adalah musuh kita bos”. ” ahhh Sudahlah” kta Moshe. ” kita kan bukan orang politik. Biarlah permusuhan ini menjadi urusan politikus. Kita saat ini mengurusi bisnis kita sendiri lanjut Moshe.  Pelayan yang masih idealis tersebut bertambah bingung namun tak bisa berbuat banyak. Bos is bos. Aturan pertama, bos tak pernah salah. Aturan kedua, Kalau bos salah lihat aturan pertama. (He he he …. candaan lama)

Tiga kali lipat kan. Ok tidak masalah” kata si Arab membayar tagihan tanpa mengeluh. Bahkan diskon 20% diberikan kepada pelayan. Giliran idealisme pelayan yang rontok berguguran. ”Iya ya… untuk apa idealisme dan nasionalisme Yahudi? Permusuhan Yahudi Arab bukan urusan seorang pelayan restoran” kata si pelayan.  Akhirnya Moshe dan pelayan bersepakat untuk melepas pengumunan di depan restorannya yang bertuliskan : ”Maaf, restoran ini tidak melayani bangsa arab”.

Cerita ini saya ambil dari ” Ancient Wisdom For Modern Leaders” karangan Anand Krishna dengan sedikit modifikasi.

Cerita diatas memberikan pelajaran kepada kita, bagaimana menjadi seorang marketer. Marketing intinya adalah relatioship. Dengan jalinan relationship yang baik makan hubungan transaksi jual beli akan berjalan secara berkelanjutan. Maka itu setiap pemasar harus menekan dalam-dalam egoismenya.

Seorang pemasar akan selalu berhubungan dengan orang lain, baik itu orang-orang yang berada dijalur distribusi produknya  maupun orang-orang yang langsung menjadi customernya. Berbagai karakter orang harus dihadapi setiap hari oleh seorang marketer.  Mulai dari karakter yang menyenangkan, mengasyikkan, menyebalkan bahkan sampai yang menyakitkan. Namun berbagai karakter yang dihadapi tersebut tidak boleh mengacaukan tujuan utama yakni penjualan yang menghasilkkan profit. Seorang marketer tidak dibolehkan menjalin hubungan berdasarkan suka atau tidak suka karena karakter seseorang, status sosial, suku, agama dan ras. Bagaimanapun menjengkelkannya seseoarang jika memberikan profit maka harus tetap selalu dipertahankan.

Jadi seorang sales atau penjual itu gampang-gampang susah, seringkali seorang penjual menggerutu ketika mendapatkan seorang pelanggan yang susah, tapi tidak jarang seorang penjual mendapatkan keuntungan besar dalam penjualan produk yang dijualnya. Keberhasilan seorang penjual bukan hanya dari keberuntungan semata tapi dari bagaimana cara seorang penjual bersikap terhadap seorang pelanggan.

Manusia mempunyai tipe yang berbeda-beda, oleh karena itu sangat perlu sekali mengetahui tipe-tipe manusia tersebut agar dapat mengetahui bagaimana pendekatannya pada mereka. Banyak teori yang menggolong-golongkan tentang tipe-tipe manusia ini dalam usaha meningkatkan penjualan. Ada teori dari NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang menggolongkan tipe manusia menjadi tipe visual, auditory dan kinesthetic. Tony Alessandra dan Michael J. O’Connor menggolongkan tipe manusia menjadi tipe direktur, ahli pergaulan, ahli hubungan dan tipe pemikir.  Galen menggolongkan Tipe manusia mejadi Tipe Sanguin, Kolerik, Plegmatik dan melankolik. Sedangkan James Gwee dalam bukunya Selling With Empaty menggolongkan tipe manusia menjadi tipe penggerak, tipe peresah, tipe seniman, tipe politikus, tipe insinyur, tipe penggiat dan tipe normal. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa nama tipe-tipe diatas bukanlah profesi mereka tapi hanyalah sebagai julukan bagi mereka saja

Disinilah letak menarik dan tantangannya menjadi seorang marketer. Seorang marketer  boleh tidak suka, boleh benci  kepada seseorang, tapi karena alasan bisnis maka tetap harus melayaninya dengan sepenuh hati. Bisnis akan selalu bergerak sesuai dengan logikanya sendiri. Dan profitable bisnis relationship adalah pondasi kokoh agar bisnis berjalan secara berkelanjutan. Dan dari sinilah dikembangkan konsep-konsep marketing bisnis mutakhir seperti Customer Relationship Management, experiential marketing, spiritual marketing, blue ocean strategy dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *