Danau Toba dan Jejak Peradaban Desa Tomok Samosir

Setelah melampaui perjalanan panjang dari kota medan melewati barisan hutan Sawit dan karet serta pinus, tepat pukul satu siang sampailah kami bertiga di Danau toba. Dari atas nampak Kebiruan air danau dibalut oleh perbukitan nan hijau , danau Toba seolah olah memamerkan keperkasaananya. Sungguh hati kami dibuat takjub tak terkira oleh salah satu danau terbesar di dunia tersebut. Sebuah danau seluas lautan dengan panjang 100 KM dan lebar 30 Km dimana ditengahnya ada sebuah pulau seluas satu kabupaten yang bernama Samosir. Danau Toba di Sumatera Utara ini  tidak hanya menyajikan keindahan alam yang eksotis. Di kawasan danau vulkanik ini tersimpan jejak peradaban Batak kuno sebelum kedatangan penginjil Nommensen tahun 1862.

Danau toba sendiri merupakan danau vulkanik yang terjadi saat ada ledakan gunung berapi pada 69.000 – 77.000 tahun lalu, diperkirakan juga sebagai salah satu ledakan gunung berapi terbesar di dunia. Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

 Untuk mencapai pulau samosir kami menuju  pelabuhan Ajibata di kota Parapat. Sayang, kapal feri baru saja bertolak ke Samosir. Akhirnya kami menunggu kapal berikutnya yang akan berangkat sekitar satu jam lagi. Dan kesempatan ini kami gunakan untuk makan siang.

Setelah makan siang kami kembali menuju dermaga yang ternyata kapal sudah siap dan sudah ada sebagian kendaraan telah masuk ke geladak kapal. Dengan bantuan para petugas kami dibantu untuk masuk ke kapal untuk parkir. Setelah parkir kami menuju tempat penumpang diatas kapal. Selama menunggu kapal berangkat kami dihibur oleh terikan anak anak kecil yang sedang berenang di sekitar kapal. Ohh… ternyata anak anak tadi mengharap para penumpang untuk melempar uang koin yang aka dikejar dan ditangkap dengan menyelam ke dasar danau.  Mereka sangat semangat dan riang berebutan untuk memburu setiap koin yang dilemparkan oleh penumpang.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kapal bergerak menuju pulau samosir. Kira kira perjalanan dengan Ferry  kami tempuh kirang lebih satu jam, untuk akhirnya kapal merapat di dermaga Tomok Samosir. 

 Daerah tomok adalah pintu gerbang pulau samosir. Di tempat ini ada tiga tempat wisata yakni rumah adat dan patung sigale gale, Kubuan raja raja kuno dan museum. Ibu kota pulau samosir adalah Panguruan sekitar 46 Km ke arah barat Tomok, terdiri dari 115 Desa dan 2 keluarahan.

Setelah berjalan menyusuri gang sempit kanan kirinya dipenuhi para penjual souvenir akhirnya sampailah kami ke Rumah adat orang Batak. Rumah panggung yang terbuat dari sejenis kayu ini masih berdiri kokoh, ditopang tonggak-tonggak kayu besar yang berfungsi sebagai pilar utama. Rumah adat orang Batak ini dibangun dengan sistem pasak. Batang-batang kayu saling mengunci dengan pasak yang dipahat langsung pada kayu.
Rumah adat batak yang ukurunya besar namanya Rumah Bolon dan yang ukurannya lebih kecil namanya Siamporik. Rumah adat Bolon adalah rumah adat khusus para raja dan keluarganya. Rumah adat Siamporik adalah rumah yang sering didiami oleh para bangsawan atau orang orang kaya. Didepan rumah adat Bolon inilah terdapat patung Sigale gale. Si Gale-gale adalah nama sebuah boneka kayu yang bisa digerakkan untuk menari. 

  Sigale gale sebenarnya dulu adalah anak seorang raja. Putra tunggal dari  raja Rahat yang memiliki wajah tampan dan satu satunya penerus keturunan. Suatu hari anak raja ini mengalami sakit keras hingga akhirnya meningggal. Kematian sigale gale inilah yang menyebabkan raja Rahat mengalami ganguan kejiwaan. Penasihat kerajaan lalu mencari tabib di seluruh negeri. Seorang tabib mengatakan bahwa raja sakit rindu. Dan untuk mengobatinya sang tabib mengusulkan kepada penasehat kerajaan untuk dibuat suatu upacara di kerajaan itu dan memahat sebuah kayu menyerupai wajah anaknya Si Gale-Gale. Dalam upacara itu, sang tabib memanggil roh Si Gale-Gale dan rohnya dimasukkan ke dalam kayu yang dipahat menyerupai wajahnya, kemudian boneka Si Gale-Gale itu manortor (menari-red) dengan iringan khas musik Batak Toba, yaitu gondang Mula-mula, gondang Somba dan gondang Mangaliat.

“Patung yang sudah dirasuki Arwah SiGale-Gale  itu menari selama tujuh hari tujuh malam, tetapi pada hari ke delapan patung itu berhenti menari,” tutur seorang  pemandu wisata  di daerah Tomok, Pulau Samosir, Sumatera Utara.

Namun saat ini patung Sigale-gale yang ada hanya replikanya. Dan kalau dulu bisa menari sendiri secara mistik dengan diiringi musik batak, tapi sekarang  tarian Sigale gale di gerakkan oleh orang.

 Setelah mendengarkan cerita  Sigale-gale dan puas mengambil gambar kami bersama sama menuju tempat pemakaman raja raja kuno.

Begitu masuk kompleks makam, terlihat beberapa peti batu berukir kepala manusia. Peti batu itu tidak tertanam di dalam tanah, tetapi berada di atas permukaan tanah. Di dalam peti itulah raja-raja keturunan Sidabutar dimakamkan. Ada  3 Raja beserta beberapa kerabatnya yang dimakamkan di kompleks ini. Jenazahnya tidak dikubur dalam tanah  tetapi hanya dimasukkan dalam peti  yang terbuat dari batu alam.  Raja pertama dan kedua masih belum memeluk agama  tetapi menganut aliran kepercayaan yang dikenal dengan Parmalin. Makam raja pertama yang terbuat dari batu dimana dibagian kepala digambar sang raja memanggul anak. Menurut penuturan pemandu wisata bahwa orang batak itu selalu mengiginkan anaknya atau keturunanya harus memilki derajat lebih tinggi dari dirinya.

Makam Raja kedua yang masih menganut kepercayaan Parmalin di gambarkan memiliki kepala berambut gimbal. Ini disimbolkan bahwa sang Raja memiliki kesaktian sangat tinggi dan tidak boleh memotong rambutnya. Dibelakang bagian kepala tepatnya bagian tengah peti batu ada tiga tungku.Tigak tungku ini disimbolkan bahwa orang batak itu harus saling mengormati, saling menasehati dan saling menghargai. Sedangkan dibagian belakang peti batu ada patung perempuan cantik. Konon dahulu ada perempuan cantik yang bernama Anting Malela Boru Sinaga. Karena kecantikannyalah perempuan ini  banyak dipinang oleh para raja yang ada di daerah batak. Namun hanya Raja yang kedualah yang berhasil memikat hati  gadis cantik ini. Namun karena banyak lelaki yang kecewa, konon ada yag meng-gunaguna sehingga perempuan ini kehilangan akal. Dan akhirnya tidak diketahui dimana keberadaannya. Selain itu di bawah kepala raja ada patung seorang ulama’ dari Takengon Aceh yang bernama Syech Said. Syech Said said yang beragama islam ini selain berguru kepada raja yang kedua, juga menjadi panglima perangnya. 

Raja ketiga bernama Solompoan Sidabutar sudah beragama kristen setelah kedatangan seorangan misionaris dari Eropa.

Di depan kompleks pemakaman berdiri gapura besar yang kaya dengan ornamen yang diukir dengan warna merah, hitam, dan putih. Ketiga warna itu menjadi simbol spiritual orang Batak.

Di gapura terukir cicak menghadap ke empat payudara atau lambang Cicak dan empat payudara ibu. Menurut pemandu wisata Desa Tomok, cicak menjadi lambang bahwa orang Batak harus bisa hidup seperti cicak, mudah beradaptasi dengan menempel di mana-mana. Sementara payudara merupakan simbol bahwa  orang batak harus memiliki banyak anak. Makanya  orang batak mengenal kata “ Maranak sapolopitu/ punya anak 17” dan “ maranak sapuloenom/ punya anak sebanyak 16”. Selain itu empat payudara  ibu melambangkan bahwa ke mana pun si cicak itu pergi, dia harus ingat dengan ibu yang melahirkannya, termasuk tanah kelahirannya.

Setelah mengunjungi kompleks makam tua, kami kembali menyusuri gang sempit menuju musem batak. Musem batak itu dibangun seperti rumah adat batak. Di dalamnya terdapat beberapa peninggalan seperti senjata, pakaian adat dan alat rumah tangga orang batak kuno.  Pengunjung diperkenankan memakai pakai adat batak sebagai kenang kenangan untuk diambil gambar.

Setelah dari museum kami berjalan jalan menyusuri kios penjual souvenir.  Terdapat banyak rentetan kios-kios pedagang cinderamata, pedagang buah mangga mini dan lainnya. Suasanya sangat riuh, ramai antara pengunjung dan pedagang. Kami menyempatkan beli souvenir buah oleh oleh.

Karena waktu kapal yang akan bertolak ke parapat masih 2 jam lagi, maka kami dengan mengendari kendaraan  menyempatkan diri mengunjungi daerah Tuk Tuk.

Tuk Tuk adalah semenanjung kecil di sebelah timur Pulau Samosir yang menjorok ke Danau Toba. Ada banyak hotel, tempat penginapan, cafe, bar, dan rumah makan di sini. Juga ada beberapa toko yang menjual suvenir khas Batak, rental mobil, sepeda motor, sepeda, dan travel biro. Selain itu Tuk Tuk juga menawarkan relaksasi. 

Tuk Tuk sangat tenang, sejuk, dan cocok untuk bersantai. Pemandangan Danau Toba di semenanjung ini memang cukup memukau. Pantainya relatif bersih dan seperti pantai laut. Wajar jika TukTuk menjadi persinggahan para turis yang ingin berkeliling Samosir. Ada beberapa tempat istirahat yang menyajikan panorama keindahan teluk dan hamparan Danau Toba, terutama di saat matahari terbenam.

Kami bertiga sempat singgah disebuah cafe sekedar meneguk kopi panas dan menikmati udara dingin sambil memandangi hamparan air danau yang sangat luas. Sambil berbincang dan sesekali mengambil gambar hampir lupa bahwa jam kapal berangkat ke Parapat sudah tibat. Segera kami menuju pelabuhan dengan tergesa gesa. Sangat bersyukur ternyata kapal belum berangkat, dan langsung kendaraan kami parkir digeladak kapal. Dan perlahan bergeraklah kapal Feri menuju kota Parapat mengantarkan kami dan penumpang lainnya  untuk bermalam…

 

Note : Terima kasih Mrs Nurrita Siahaan dan Mr Tatang, telah berkenan menemani perjalananku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *