Gaya, Seni, Dan Strategy Menjual

Menjual tidak hanya terbatas pada proses menawarkan sebuah produk atau jasa saja, melainkan sebuah proses mempengaruhi orang lain agar orang lain bersepakat dengan keingingan kita.

Dalam kehidupan sehari hari, setiap manusia akan selalu terlibat dalam proses selling tanpa bisa dihindari. Ketika seorang anak sedang meminta uang jajan kepada ibunya, Ketika seorang kondektur bus sedang mencari penumpang, ketika seorang mengajak temannya  ke cafe untuk ”dugem”, ketika video clip sedang dipertontonkan di televis, ketika seorang politikus sedang berkampanye, ketika menawarkan sebuat produk dan ketika menolah sebuah tawaran produk, itu semua adalah proses selling.

Dalam proses selling, setiap orang memiliki strategi yang berbeda sesuai dengan knowledge, Skill, wawasan, jaringan dan sikap mental masing masing.

Kalau dilihat dari pendekatannya, strategi atau gaya menjual yang biasa kita temukan bisa dikategorikan sebagai berikut:

1. Gaya Mengemis dan Memohon Belas Kasihan.
Strategi ini sangat tergantung kepada belas kasihan orang lain, keberuntungan. Pada Strategy ini kita tidak memiliki kendala sama sekali. Kalau kita ingat terhadap anak yang merengek-rengek minta dibelikan permen, seperti itulah srtaegy ini dijalankan. Gaya-gaya seperti ini dalam dewasa ini juga masih banyak dan sering dilakukan orang yang menyebut dirinya salesman  atau marketer. Pendekatan dengan gaya ini bisa kita kenali dari gayanya yang khas seperti “tolonglah pak/bu, sekarang order agar target saya tercapai…”, atau “Tolong dibantu order, kasihan bu …target saya masih jauh…nati dimarahin atasan saya” atau ” tolong dibantu… saya kan memiliki anak yang harus saya nafkahi dengan insentif saya” dsb… dsb…

2. Gaya Maksa,
Kalau kita sering menemukan para salesmen di perusahaan direct selling, dimana para sales ngotot dan memaksa para prospek untuk membeli produknya. Selling gaya ini sering membabi buta untuk menjual produknya dimanapun berada, dipinggir jalan, dirumah rumah dan jam tidur siang, dikantor, dirumah dan lain lain. Seringkalai gaya ini memaksa prospek untuk beli produknya walaupun prospek menjelaskan tidak ada kebutuhan dan tidak tertarik untuk membeli. Meskipun gaya ini relatif lebih baik daripada yang no 1, tetap saja strategi ini kurang efektif, justru kebanyakan prospek akan jera dan trauma karena cara pendekatan yang maksa ini. Gaya Selling inilah yang sebenarnya menimbulkan persepsi negatif terhadap profesi sebagai sales people, sehingga
banyak sales yang menjadi kurang pede. Bahkan beberapa perusahaan harus menyebut salesmannya sebagi marketing executive, account executive. product specialis dan lain lain.

3. Memberi Perintah
Gaya selling tipe ini sedikit memaksa dengan perintah dan instruksi. Gaya ini sangat kaku dan hanya bisa dilakukan orang-orang yang memiliki kekuasan dan karisma atau kekuatan. Pendekatan ini hanya sukses kepada orang-orang dilingkar kekuasaannya dan akan gagal bagi orang diluar kekuasaannya.

4. Pendekatan Negosiasi.
Gaya ini betul-betul transaksional take and give. Syarat untuk bisa melakukan negosiasi adalah posisi tawar yang minimal seimbang dengan prospek. Biasanya ada sesuatu yang kita dapat namun ada sesuatu yang kita korbankan. ” saya mendapatkan sesuatu dari anda dan saya memberikan sesuatu kepada anda.

5. Pendekatan Persuasif,

yaitu strategi membujuk dan mempengaruhi dengan menggunakan pengetahuan tentang psikologi dan perilaku manusia.  Pendekatan ini jauh lebih fleksibel dan bisa digunakan kapan saja meskipun posisi tawar kita lemah. Namun diperlukan ketrampilan dan pengetahuan  tentang  prilaku dan karakter manusia.

6. Pendekatan dengan HypnoPersuasion,
Gaya selling ini diambil dari ilmu hypnosis yakni sebuah seni berkomunikasi dengan pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Hypnosis ini dikembangkan dan digunakan untuk mensukseskan penjualan dengan mempengaruhi prospek. Dalam pendekatan ini seorang sales harus  menguasai metode HypnoPersuasion yang mampu mengontrol suasana hati dan pikiran prospek, mengontrol arah pembicaraan, memunculkan kebutuhan & keinginan membeli pada level bawah sadar prospek sehingga mampu meminimalkan keberatan. Sehingga prospek akan merasa ide dan keputusan membeli tersebut berasal dari dirinya sendiri.

Pertanyaanya adalah  anda termasuk tipe yang mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *