Tarian Belas Kasih

e9c2cadbfa74eb5bde0761f85620d4b6_shedancestibetKenapa memaafkan serta menerima kehidupan secara ikhlas dalam praktik sulit sekali?”, ini pertanyaan banyak sekali sahabat. Sejujurnya, kesulitan memaafkan dan ikhlas dalam praktik keseharian tidak disebabkan oleh besarnya kesalahan orang, melainkan lebih disebabkan oleh besarnya ego seseorang.

Begitu ego mengecil, apa lagi menghilang, memaafkan dan ikhlas secara alamiah jadi jauh lebih mudah. Pertanyaannya kemudian, dari mana asal muasal ego? Meminjam dari The Book of Mirdad: “tatkala Hawa digoda ular untuk memakan buah kesedihan dan kesenangan, sesungguhnya ia sedang menyentuh akar terdalam dari dualitas”.

Dengan kata lain, bibitnya ego dan keakuan adalah dualitas. Banyak sekali manusia yang mengira dirinya benar, kemudian bermusuhan berlebihan dengan pihak-pihak yang diyakini salah. Berlimpah jumlah manusia yang merasa dirinya baik, kemudian menyerang mereka yang diduga buruk.

Intinya sederhana, seseorang dipermainkan oleh dualitas. Dalam kehidupan pribadi, hampir semua manusia mau kehidupan yang aman dan nyaman. Padahal, jangankan manusia biasa bahkan nabi, avatara, bahkan Buddha pun tidak mengalami kehidupan yang sepenuhnya aman dan nyaman.

Tercerahkan atau tidak, kehidupan senantiasa mengalir dari aman menuju tidak aman kemudian aman lagi, dari nyaman menjadi tidak nyaman kemudian nyaman lagi. Itu sebabnya meditasi bukan sebentuk ajaran yang bisa membuat manusia senantiasa aman dan nyaman. Melainkan serangkaian ajaran yang membuat jiwa-jiwa memasuki gerbang ke-u-Tuhan.

Dalam bahasa psikologi, meditasi adalah serangkaian langkah untuk menjumpai diri yang lebih dalam. Diri yang lebih dalam bukan badan, bukan pikiran, bukan perasaan, bukan kecerdasan. Kata “bukan” sangat ditekankan di sini.

Sederhananya, apa pun pengalaman kekinian, dari kaki yang semutan sampai pikiran yang damai, sambut mereka dengan kata “bukan”. Dengan cara ini, seseorang terus menerus menggali diri yang semakin dalam dan semakin dalam lagi.

Guru zen Ezra Bayda punya tips yang layak dicoba. Setiap hari, di mana pun dan kapan pun, terutama kalau Anda diganggu hal-hal ekstrim seperti terlalu sedih atau terlalu senang, belajar melaksanakan latihan tiga nafas.

Misalnya Anda dimarahi oleh atasan, cepat terhubung dengan nafas selama tiga tarikan dan hembusan nafas. Dalam waktu beberapa detik ini, belajar melihat kekinian tanpa penghakiman. Ingat jiwa2 yang indah, dalam kemarahan atasan ada ketidaksempurnaan Anda.

Bila tekun dan tulus berpraktik sepert ini, seseorang sering berjumpa ke-u-Tuhan. Dan di rumah ke-u-Tuhan, memaafkan dan ikhlas itu jadi jauh lebih mudah. Lebih dari sekadar mudah memaafkan, di rumah ke-u-Tuhan kehidupan berubah wajah menjadi tarian belas kasih. Kedamaian ada di sini untuk membimbing para mahluk berjumpa kedamaian yang sama.

Penulis: Gede Prama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *