Dari hotel The Pade Aceh, kendaraan meluncur ke arah barat. Lalu menyusuri pantai, belok kanan dan sampailah di ujung jalan buntu. berbatasaan dengan lepas pantai. Daerah Ujung Pancu Aceh Besar. Dari situ ada tulisan 400 meter menuju Makam Syeh Hamzah Al Fansyuri Al Farisy. Jalanannya menanjak, konon ada 500 anak tangga. Penuh semak semak. Banyak serangga, juga kera berkeliaran.

Pusara Syeh Hamzah Al Fansyuri, sepanjang kurang lebih 4 Meter, dan pusara dua muridnya
Berpose di depan Makam Syeh Hamzah Al Fansyuri

Kurang lebih 15 menit sampailah kami di Makam yang kami tuju. Bangunan kecil hanya berdiding kain putih. Sebelahnya ada bangunan panggung terbuat dari kayu tanpa dinding untuk sholat dan istirahat. Makamnya terlihat tak terawatt. Juga mungkin jarang orang berziarah

Kami sempatkan sholat Dhuhur.

Kemudian kami masuk ke dalam area pemakaman, menyingkap kain penutup. Lalu duduk berdizikir dan bertawassul.

Syeh Hamzah Al Fansyuri Al Farisy adalah ulama tasawuf Aceh yang diperkirakan hiduo jama Sutan Iskandar Muda pertengahan abad 16. Beliau Lahir di Barus daerah Singkil.

Syeh Hamzah Al Fansyuri Al Farisy adalah Tokoh agama yang aliran wahdatul Wujud. seorang ahli tasawuf, zahid dan mistik yang mencari penyatuan dnegan al-khaliq dan menemunya dijalan kasih Allah. Persis sama dengan ajaran Syeh iti Jenar di jawa. Seperti kisah Syeh Siti Jenar, Syeh Hamzah Al Fansyuri Al Farisy juha dituduh mengembangkan ajaran sesat. Tokoh yang menfatwa sesat adalah Nuruddin Ar Raniry, ulama berpengaruh di kesultanan Aceh.

Jalan setapak, terjal menuju Makam Syeh Hamzah Al Fansyuri
mendekati makam Syeh Hamzah Al Fansyuri

Minimnya referensi sejarah Beliau melahirkan kontroversi tentang beliau. Ada yang mengatakan beliau meninggal di Kampong Oboh Kecamatan Runding Kota Subulussalam dan juga diamakamkan di sana. Juga berkembang bahwa beliau dihukum pancung oleh Algojo di depan masjid Raya Aceh, atas Fatwa Syeh Nuruddin Arr Raniniry. Kemudian oleh muridnya dimakamkan di ujung Oancu Aceh Besar.

Namun apapun kontoversi tentang beliau, saya meyakini beliau adalah ulama besar yang perlu kita hormati, dan teladani serta kembangkan karya karyanya.

View Lancape yg sangat indah, di sebelah kiri jalan setapak menuju Makam Syeh Hamzah Al Fansyuri
View Di Ujung Pancu. istiraht sejenak sambil minum kelapa muda. melihat orang orang memancing

Abdul Hadi W.M  mengutip penggalan syair Hamzah berikut; cahaya athar-Nya tiadakan padam/ memberikan wujud pada sekalian/ menjadikan makhluk siang dan malam…. aho segala kita umat Rasuli/ tuntut ilmu hakikat al-wusul/ karena ilmu itu pada Allah qabul/ i’tiqadmu jangan ittihad dan hulul.

“Syair Perahu” karya Hamzah Fansuri:
Inilah gerangan suatu madah
Mengarangkan syair terlalu indah
Membetuli jalan tempat berpindah
Di sanalah iktikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil hidupmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal hidupmu

Hai muda arif budiman
Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insan

Perteguh jua alat perahumu
Hasilkan bekal air dan kayu
Dayung pengayuh taruh di situ
Supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar
Angkatlah pula sauh dan layar
Pada beras bekal jantanlah taksir
Niscaya sempurna jalan yang kabir

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *