Harbolnas  12.12, begitu heboh. gegap gempitanya masih terasa.  Harbolnas  tahun ini adalah pelaksanaan Harbolnas yang keenam. Pertama dilakukan tahun 2012.  Hari Belanja Online Nasional.

Inilah kreatifitas marketer milenial.  Mereka mencipatkan momentum. Momentum untuk menggerakan  pelanggan.  Iya, karena marketing adalah seni untuk mengerakkan seseorang melakukan tindakan  atau mengambil keputusan tertentu. Dalam hal ini pembelian atau pembelanjaan produk.

Dengan Harbolnas diharapkan semua orang tergerak melakukan pembelanjaan. Baik orang yang biasa belanja online maupun yang belum pernah belanja online.  Tentu dengan iming iming yang menarik. Diskon yang mnggila. Free ongkir, cashback dan lain lain.

Tak tanggung tanggung, target transaksi Harbolnas tahun ini sebesar Rp 7 Triliun.

Bukalapak sendiri mentargetkan Rp 1,6 Trilun. Shopback mentargetkan transaksi 5 kali lipat dari Harbolnas tahun 2017. PT Bank Mandiri Tbk atau Bank Mandiri menargetkan nilai transaksi minimal sebesar Rp 1,4 triliun dari Harbolnas 2018

Berita mencengangkan datang dari marketplace Shopee. Harbolnas 2018, Shopee Raih Lebih 11 Juta Pesanan dalam 24 Jam.

Habits seseorang, ketika satu kali melakukan  action, maka akan cenderung melakukan lagi dan lagi. Itulah yang diharapkan  adanya Harbolnas.  Agar konsumen terbiasa belanja online. Selanjutnya meninggalkan cara belanja konvensional.

Lalu apakah Harbolnas bisa menjadi lonceng kematian  bagi bisnis konvensional? …Bisa iya, untuk bisnis tertentu.  Karena Konsumen kekinian didominasi oleh kaum milenial.

Bagaimana sih karakter konsumen milenial itu?

Konsumen Milenial  cenderung ingin simple dan tidak mau ribet.  Konsumen millennial  lebih mengutamakan experience daripada kepemilikan barang. Kaum Milenial lebih menuntut fleksibel daripada kekakukan.  Bagi kaum milenial “dunia berada dalam genggamannya”.

Oleh Karenanya konsumen milenial disebut pembunuh berdarah dingin. Millennials Kill Everything.  Dalam sebuah artikel produk produk yang hendak dibunuh oleh kaum milenial adalah departemen store, bisnis bioskop, Golf, bisnis berlian, bisnis Bir,  Kasino, TV Kabel, kartu kredit, bisnis Gym, dan lain lain..

Lengkapnya disini The Official Ranking of Everything Millennials Have Killed

Kenapa milenial bisa menjadi “pembunuh berdarah dingin” bagi begitu banyak produk dan layanan? Karena perilaku dan preferensi mereka berubah begitu drastis sehingga produk dan layanan tersebut menjadi tidak relevan lagi, alias punah ditelan zaman.

Untuk mengetahui lebih banyak bagaimana kaum milenial menjadi pembunuh berdarah dingin, silahkan search di Google dengan keywaord “Millenials Kill”, maka anda akan terkejut.

Jadi Harbolnas bisa jadi lonceng kematian bagi beberapa industri dan perusahaan. Terutama perusahaan yang tidak mau beruap dan beradaptasi terhadap habist kaum milenial.

2 Replies to “Harbolnas, sebuah Lonceng Kematian”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *