Bersih, indah, pencakar langit, elegan,  mengagumkan, mencengangkan adalah sederet kata kata yang berkecamuk dipikiran orang yang baru menginjakan  kakinya di Kota Dubai United Arab Emirates (UAE). Gedung gedung pencakar langit dengan bentuk yang  unik berjejer di kanan kiri jalan seakan akan berlomba untuk memikat hati pendatang. Subway dan monorel membuat takjub seakan akan telah dipersiapkan sejak dini walaupun lalulintas tidak macet. Taman taman bunga nan indah berwarna warni seakan akan berada didunia dongeng karena tumbuh ditengah tengah padang pasir.

kedatangan saya dan rombongan adalah untuk urusan bisnis penjajakan export produk cairan infus, menyaksikan penandatanganan MoU Belhoul European Hospital dan RS Bina Sehjat Jember  serta penjajakan kerjasama tenaga kerja terlatih dan potensi daerah Kabupaten Jember. Untuk urusan kerja telah banyak ditulis oleh media online yang ada dan sudah saya reposting di gubugku ini.

Sekarang aku ingin menceritakan kekaguman saya dengan kota Dubai ini.

Hari kedua sebelum ketemu Konjen salah satu guide lokal yang bernama Tia  mengarahkan bus yang kami tumpangi ke Dubai Creek. Dubai Creek adalah  sebuah pelabuhan yang cukup besar dan bersih. Karena sangat bersih dan indah  maka dijadikan salah satu obyek wisata. Banyak restoran dan cafe tempat nongkrong disini. Ada juga paket wisata Dhow Dinner Cruise Marina sebuah wisata makan malam diatas kapal yang dihiasi lampu berwarna warni menyusuri pelabuhan mengeliling kota kota tua Dubai.

Down Dinner Cruise Marina kami nikmati di malam terakhir di Dubai. Pada hari kedua ini di Dubai Creek hanya sekedar Photo stop kemudian meluncur ke daerah Bastakiyah.

Bastakiah adalah tempat penduduk asli masyarakat Dubai. Disinilah rumah  asli orang dubai jaman dahulu terbangun. Rumah kuno yang kami kunjugi adalah mantan rumah orang tua  Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum Emir Dubai  sekaligus Wakil Presiden UAE dan Perdana Mentri UAE.

Bagian atap rumah tradisonal Dubai terdapat beberapa menara seperti cerobong udara. Menara ini sebagai sirkulasi angin yang berfungsi untuk mendingin udara dalam rumah. Sehingga didalam rumah tradisional ini hawanya cukup dingin dan sejuk walau tidak ada fasilitas air conditioner (AC). Rumah-rumah tradisonal ini kini menjadi bagian dari Desa Heritage.

Dari kawasan Bastakiah, kami bergerak menuju KJRI untuk audiensi. Dari Konjen RI kami bergerak menuju Dubai Gold Zouk (pasar emas). Dubai Gold Souk merupakan sebuah pasar tradisional Emas.  Ada ratusan toko besar dan kecil yang menjual perhiasan emas dan diamond. Disinilah sorga bagi pemburu perhiasan emas. Tak ada  tawar menawar disini karena setiap toko telah mencantumkan harga per gram baik yang 24K, 22K maupun 18K.  Sehingga para pembeli tidak perlu takut untuk tertipu. Selain itu konon kualitas emas di sini adalah kualitas terbaik. Yang perlu hati hati adalah jangan sampai belanjanya lupa diri karena perhiasan yang ada cantik cantik sehingga sangat memikat hati.

Setelah puas berbelanja, rombongan bergerak ke sebuah pantai yang terkanl dengan Jumeirah beach hanya ingin melihat dan berphoto dengan latar belakang sebuah hotel bintang tujuh Burj Al Arab. Sebuah Hotel yang sangat mewah yang terletak di pulau buatan yang menjorok ke lepas pantai dimana menaranya mirip dnegan sirip ikan Hiu. Hotel ini adalah icon kota Dubai sebelum adanya burj Khalifah.

One Reply to “Dubai, Kota Megah Sorga Belanja (Catatan Perjalanan Hari ke 2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *