Syech Ibrahim bin Adham seorang sufi besar. Beliau adalah seorang pangeran, putra mahkota kerajaan besar. Suatu ketika Ibrahim bin Adham ada dalam kamar pribdinya, mendengar langkah kaki seseorang diatas atap.

“ Siapa dia atas atap, dan sedang apa kalian” tanya Ibrahim bin Adham.

“ saya sedanga mencari seekor kuda yang hilang” kata orang tersebut.

“bagaimana bisa kalian mencari kuda diatas atap, seharunya carilah ditanah lapang yang oenuh rerumputan” jawab Ibrahim bin Adham sambal mentertawakannya.

“ Bukankah sama dengan anda wahai Ibrahim bin Adham. Bagaimana mungkin anda mencari kebahagiaan duatas ranjang tidurmu. Mana mungkin anda menemukan kebahagiaan yang hakiki”

Tersadar dengan uacapan seseorang tercebut, Ibrahim bin Adham  keluar meninggalkan istana melakukan pengembaraan. Dalam pengembaraannya dalam mencari buah delima yang berbukan puasa,  bertemulah Ibrahim bin Adham dengan seorang pemudayang sangat menjijikkan karena penyakit lepra.  Jari jarinya, hitung dna pipinya serta anggota tubuh yang lain sudah membusuk. Namun dari bibir sang pemuda ini terus menerus terucap kata alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah…..

melihat keanehan tersebutm Ibrahim bin Adham bertanya “ wahai pemuda, nikmat manakah yang kamu syukuri. Sedangkan  wajahmu sudah membusuk dana penuh ulat. Anggota tubuh sudah pada berjatuhan. Kenapa lesanmu masih melafadzkan alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah”.

Anak mudah tersebut menjawab “ Cobaan dan ujian Allah SWT berikan kepada tubuh ini tidak seberapa daripada Cobaan dan ujian yang Allah berikan kepadamu yang memperturukan hawa nafsumu utnuk mendapatkan buah delima”

Ibrahim bin Adham terkejut karena pemuda yang menjijikkan secara dhohir tersebut mengetahui apa yang sedang dicariya.  Ibrahim bin Adham tersadar bahwa ujian kepada hati jauh lebih berat daripada ujian secara fisik kepada tubuh.

By Berik Wicaksono

Nama Saya Berik Wicaksono. Tinggal di Bekasi. Asal Lumajang Jawa Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *